Raja Galuh Sambut Baik Jika Capres dan Caleg Berkunjung ke Istana Galuh

0
Raja Galuh
Raja Galuh Raden Hanif Radinal Muchtar

CIAMIS-Raja Galuh Raden Hanif Radinal menyambut baik jika ada calon presiden atau calon anggota legislatif yang mau berkunjunjung ke Istana Galuh dan kabuyutan. Sebab, Kerajaan Galuh yang sangat berjaya pada zamannya tak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya bangsa ini. Bahkan pada zaman kemerdekaan banyak para pendiri bangsa ini yang datang berkunjung ke istana Galuh.

“Bung Karno juga sering berkunjung ke Galuh. Jangan lupakan Galuh pernah dijadikan tempat untuk merumuskan format NKRI,” kata Hanip.

Putera Menteri pada zaman orba Radinal Muchtar ini mengatakan, tradisi mengunjungi makam leluhur ini nyaris dilupakan. Padahal calon pemimpin mestinya bisa berkaca kepada sejarah. Maksudnya bisa meneladani tokoh-tokoh masa lalu saat memimpin kerajaan. Sebab tak bisa dipungkiri NKRI lahir karena ada kerajaan-kerajaan.

“Para pemimpin saat ini ada kaitan historis dengan masa lalu. NKRI dibangun di atas tanah bekas kerajaan se-Nusantara. Ini menandakan bahwa NKRI adalah reinkarnasi kerajaan dalam bentuk modern, ” kata Hanif.

Hanip juga tak setuju dengan politisasi budaya demi menggapai kekuasaan. Kerap sekali budaya dijadikan alat politik, justru sebaliknya kekuasaan atau politik harus bisa mengembangkan budaya demi memperkuat nilai kebangsaan.
“Makanya libatkan para budayawan dalam kebijakan politik tanpa harus memperalat para budayawan,” katanya.

“Kami menjaga pakem untuk tidak bersentuhan secara praktis ke partai politik. Namun kami merangkul para politisi yang peduli terhadap pengembangan budaya Galuh. Kami sangat hargai jika ada politisi yang mencintai budaya leluhur,” ujar Raden Hanif.

Menurut Hanif, di Ciamis ada sekitar 200 kabuyutan dan ratusan situs budaya yang membutuhkan perhatian pemerintah. Kekayaan budaya dan peninggalan leluhur Galuh ini kurang tersentuh kebijakan. Ditambah lagi warisan benda pusaka yang belum dikelola secara baik karena masih dirawat oleh keluarga keturunan Galuh.

“Inilah yang menjadikan kami fokus untuk merevitalisasi seluruh warisan leluhur melalui budaya. Nilai-nilai kegaluhan masih relevan untuk dikembangkan di zaman milenial,” ujar Hanif.

Hanif menilai, dalam kancah pilpres dan pileg ini, dunia budaya belum menjadi isu sentris. Masyarakat hanya diajak bicara politik tanpa sentuhan budaya lokal. Makanya tidak heran nilai-nilai budaya sosial Galuh yang penuh keramahan dan santun tidak terbawa dalam komunikasi politik.(rev)

(Visited 19 times, 19 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here