Kirab Pusaka Galuh dan Jamasan di Situs Jambansari Ciamis

0

CIAMIS-Ratusan masyarakat dan perwakilan dari beberapa Kabuyutan dari situs-situs budaya di Kabupaten Ciamis mengikuti prosesi Kirab Pusaka Galuh dan tradisi Jamasan di Situs Makam Jambansari Minggu (10/12).

Prosesi kirab pusaka diawali dengan mengeluarkan pusaka peninggalan sejarah Galuh dari Museum Galuh Pakuan. Kemudian diarak dari Museum Galuh Pakuan menuju Situs Jambansari atau makam Bupati Galuh RAA Kusumadiningrat.

Dilokasi situs kemudian benda pusaka dibawa ke lokasi makam lalu melaksanakan tawasulan. Benda pusaka kemudian dibawa kembali keluar dan dilaksanakan Jamasan atau membersihkan benda pusaka menggunakan air dari tujuh mata air.

Tujuan dari Kirab Pusaka Galuh ini untuk menyosialisasikan kepada masyarakat luas agar mengetahui peninggalan-penginggalan sejarah galuh. Ini sebagai bentuk untuk melestarikan dan memelihara peninggalan karuhun budaya galuh.

“Kirab pusaka galuh ini dilaksanakan secara rutin satu tahun sekali,” ujar Panitia Kirab Pusaka Galuh R Hanif Radinal.

Sementara prosesi jamasan sendiri diawi dengan petugas Jamsan membuka bungkus atau serangka tiap benda pusaka kemudian dimasukan kedalam air yang sebelumnya sudah disediakan didalam sebuah wadah khusus yang terbuat dari kayu, air tersebut diperoleh dari tujuh mata air antara lain Jambansari, Karangkamulyan, Imbanagara, Cimaragas, Nagaratengah, Cineam dan Tasikmalaya.

Selainjutnya air tersebut juga ditaburi tujuh jenis bunga, setelah siap, kemudian pusaka tersebut dimasukan kedalam air lalu digosok menggunakan jeruk nipis, kemudian dikeringkan menggunakan lap kering lalu diberi minyak wangi dan dimasukan kembali ke serangka.

Prosesi tersebut semata-mata untuk menjaga kondisi benda pusaka yang sudah berumur ratusan tahun itu agar tidak rusak dimakan usia.

“Jamasan ini tujuannya untuk merumat (merawat), menjaga benda pusaka bersejarah ini supaya tidak rusak dan hilang dimakan zaman, intinya kegiatan ini untuk melestarikan peninggalan zaman dulu karena dari benda pusaka ini menyimpan sejarah dan kebanggaan warga tatar galuh, jadi anak cucu kita nanti masih bisa mengetahui sejarah kerajaan galuh,” katanya.

Kata dia, selain merawat benda pusaka, tradisi yang dilaksanakan selama bertahun-tahun ini dilaksanakan setiap bulan maulid nabi karena memiliki filosifi untuk membersihkan diri  yakni dengan berdoa dan mendekatkan diri dengan sang pencipta, sekaligus memperingati Maulid Nabi.

“Benda pusaka ini berasal dari para keturunan yang sengaja disimpan disini, kegiatan ini juga sekaligus untuk mempererat tali silaturahmi antar keturunan Kerjaan galuh dan masyarakat, semua hadir disini,” katanya.

Sementara itu, Bupati Ciamis Drs H Iing Syam Arifin yang ikut hadir mengatakan tradisi Jamasan sebagai perwujudan dan kepedulian kepada para leluhur yang telah mewariskan kepada generasi sekarang untuk dibangun dan ditingkatkan.

“Ciamis ini daerah yang memiliki banyak sejarah dan peninggalan yang masih ada dan lestari, ini satu aset yang harus dijaga dan menjadi tanggung jawab bersama,” jelasnya.

Kata dia, Ciamis tentunya masih memiliki potensi yang akan dikembangkan dari segi pariwisata budaya dan wisata religi serta wisata ziarah.

“Tentu kita akan kembangkan,  Ciamis ini sangat berpotensi. Kirab pusaka ini sangat bagus agar masyarakat tahu. Pendopo Bupati bisa digunakan untuk kegiatan kirab pusaka ini,” pungkasnya. (Cecep/Galuhnews.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here